Fish

Kamis, 03 November 2011

Arti Kesabaran

Kesabaran mempunyai sebuah arti yang besar dalam hidup kita. Kita menjalani sebuah kehidupan harus mempunyai kesabaran. Setiap hari kita slu dihadapkan dengan kesabaran. walaupun itu dalam hal kecil. Dengan kesabaran yang kecil kita belajar untuk belajar sabar dalam segala hal. Banyak hikmah yang bisa diambil dari sebuah kesabaran. Kita bisa menjalani hidup dengan tenang klo kita mempunyai kesabaran itu. Jangan pernah berhenti untuk bersabar.

Kamis, 25 Februari 2010

Makna Perjalanan Hidup


Ada masanya ketika kita teringat dan ingin mengenang kembali nilai-nilai moral dan budi pekerti yang diajarkan, semangat perjuangan yang diwariskan, teladan yang diberikan, serta jasa-jasa dan perjuangan orangtua atau orang-orang terkasih dalam hidup kita.

Ada kalanya muncul keinginan untuk terus menghidupkan nilai-nilai dan mutiara kebijaksanaan orangtua kita ke generasi-generasi selanjutnya. Sebab, tidak ada pengajaran budi pekerti dan teladan terbaik selain dari riwayat hidup para pendahulu kita.

Ada kalanya yang kuat tersimpan dalam kenangan justru luka-luka kehidupan yang tak termaafkan. Padahal, semua peristiwa tragis, peristiwa pahit, perselisihan, pertentangan, atau peristiwa yang menimbulkan luka itu, tetaplah merupakan bagian dari sejarah hidup orang-orang terkasih kita yang tak terelakkan. Setiap zaman memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri, begitu juga mereka pelaku-pelaku sejarah di dalamnya.

Sesungguhnya, seburuk apa pun peristiwa itu, sepahit apa pun luka yang ditimbulkannya, sekuat apa pun dendam yang muncul karenanya, tetaplah ada hikmat dan pelajaran berharga di sana. Mereka sedang menanti di belakang peristiwa-peristiwa itu, untuk kemudian menyapa kita dengan kearifan dan kesempurnaan akan nilai cinta kasih.

Dan, ada kalanya kita mendambakan penyatuan kembali, rekonsiliasi, sebagai sebuah keluarga besar melalui pemaknaan kembali atas peristiwa-peristiwa yang telah dilalui oleh orang-orang terkasih kita.

Rabu, 30 Desember 2009

Hakikat Cinta


Cinta merupakan suatu keadaan perasaan yang sifatnya kuat, menakjubkan, mendalam, dan penuh kelembutan terhadap suatu objek tertentu. Karena merupakan suatu yang bersifat personal, seringkali cinta dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin untuk diteliti secara eksperimental, sehingga para ahli psikologi pun mengalami kesulitan tersendiri untuk mengungkapkan dan menjelaskan lebih jauh tentang perasaan cinta ini. Kendati demikian, menurut para ahli bahwa perekembangan perasaan cinta seseorang pertama kali dibentuk dan diperoleh terutama dari ibu atau pengasuhnya pada masa bayi, melalui segenap upaya yang dilakukan ibu dalam rangka pemenuhan berbagai kebutuhan dasar sang bayi.

Menurut Maslow, rasa dicintai dan mencintai merupakan salah satu kebutuhan penting manusia, setelah kebutuhan dasar dan kebutuhan rasa aman. John B. Watson salah seorang penganut behavioristik meyakini bahwa cinta itu ditimbulkan dari adanya rangsangan yang berkenaan dengan kulit pada wilayah erogenous. Pelukan, belaian, usapan dan kecupan halus seringkali digambarkan sebagai manifestasi dari rasa cinta. Sementara itu, dari kelompok Psikoanalis menganggap pentingnya menyusui sebagai bentuk jalinan cinta antara ibu dengan bayi. Menurut John Bowlby bahwa arti penting menyusui tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan rasa haus atau lapar bayi semata, tetapi juga sebagai bentuk “primary object-clinging,” yaitu kebutuhan akan keakraban atau kehangatan melalui kontak fisik dengan sang ibu. Di lain pihak, Erich Fromm (Nana Syaodich Sukmadinata, 2005) mengemukakan bahwa rasa cinta berkembang dari kesadaran manusia akan keterpisahannya dari yang lain, dan kebutuhan untuk mengatasi kecemasan karena keterpisahan tersebut melalui pembentukan suatu persekutuan dengan yang lain. Manusia sebagai individu berdiri sendiri terlepas dari yang lainnya. Karena kesendirian dan keterlepasannya dari yang lain ini seringkali merasa kesepian, merasa cemas, ia membutuhkan seseorang atau orang lain. Berkat adanya situasi ini tumbuhlah rasa cintanya akan orang lain atau suatu hal di luar dirinya. “Every person as a separate individual, experiences aloness. And so we strive actively to overcome our aloness by some form of love” (May, 1968).

Presscot, (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) mengemukakan beberapa ciri rasa cinta:
Cinta melibatkan rasa empati. Seseorang yang mencintai berusaha memasuki perasaan dari orang yang dicintainya.
Orang yang mencintai sangat memperhatikan kebahagiaan, kesejahteraan dan perkembangan dari orang yang dicintainya.
Orang yang mencintai menemukan rasa senang, dan hal ini menjadi sumber bagi peningkatan kebahagiaan, kesejahteraan, dan perkembangan dirinya.
Orang yang mencintai melakukan berbagai upaya dan turut membantu orang yang dicintai untuk mendapatkan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemajuan.

Objek cinta tidak selalu manusia, bisa juga benda, keadaan, pekerjaan, negara, bangsa, tanah air, Tuhan, dsb. Dengan demikian karakteristik yang menjadi perhatian orang yang mencintai sesuai dengan objek yang dicintai ada perbedaan. Dengan mengutip dari Erich Fromm, Nana Syaodih Sukmadinata (2005) mengetengahkan lima macam cinta yang berbeda, yaitu: cinta sahabat, cinta orang tua, cinta erotik, cinta diri sendiri, dan cinta Tuhan.
Cinta sahabat atau persaudaraan, adalah cinta yang paling dasar dan umum. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain. Kehidupan kelompok, kebersamaan, interaksi sosial merupakan kebutuhan dasar dari individu. Untuk membentuk kehidupan bersama, kehidupan kelompok, dan interaksi sosial yang baik perlu didasari oleh rasa senang, rasa bersahabat, rasa cinta dari individu ke individu yang lainnya.
Cinta orang tua (cinta ibu atau ayah) kepada anak. Cinta ini cinta murni, sebab tanpa didasari pamrih atau imbalan apapun, cinta orang tua benar-benar ditujukan bagi kepentingan anaknya. Cinta orang yang tulus (unconditional parental love) menjadi dasar bagi pembentukan inti harga diri (core of self esteem) anak (Buss, 1973)
Cinta erotik merupakan cinta antara jenis kelamin yang berbeda, antara pria dengan wanita. Cinta ini disebut cinta erotik karena mengandung dorongan-dorongan erotik atau seksual. Pada umumnya, perasaan cinta ini muncul dalam diri seseorang bersamaan dengan munculnya hormon seksual pada saat memasuki masa remaja awal. Jika perasaan cinta ini tidak terkendalikan dengan baik justru akan dapat menimbulkan berbagai bentuk penyimpangan perilaku seksual.
Cinta diri sendiri. Manusia adalah makhluk yang bisa bertindak sebagai subjek dan juga sebagai objek. Berkenaan dengan masalah cinta, objek cintanya bisa dirinya sendiri. Kecintaaan terhadap diri sendiri yang berlebihan dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan mentalnya, dengan apa yang disebut narcisisme.
Cinta Tuhan merupakan manifestasi dari hubungan manusia dengan yang ghaib, yaitu yang menciptakannya. Cinta Tuhan lahir dari keyakinan agamanya, dan akan Tuhannya yang menentukan segala kehidupannya. Cinta Tuhan juga merupakan manifestasi dari kesediaan makhluk untuk berbakti kepada-Nya.

Bertemu Jodoh didunia Online

Berbagai fenomena yang terjadi sekarang memang sudah diramalkan dari sejak jaman Rasulullah SAW. Betapa konon, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kelak... pada jaman akhir, dunia akan menjadi tak berjarak lagi satu sama lain. Barat dan timur bisa dijangkau dalam hitungan detik dan menit. Dan seseorang bisa berbicara dan melihat keluarganya walaupun dia sedang berada jauh dari rumah tinggalnya.

Dan jodoh, lebih luas lagi sarana pencapaiannya. Setiap orang bisa jatuh cinta kapanpun dan di mana pun. Dan dunia online adalah salah satunya. Banyaknya situs pertemanan pun memungkinkan setiap orang untuk bertemu 'someone'-nya di dunia online. Subhanallah. Dan saya telah menjadi saksi atasnya !

Di Myspace, saya menjadi saksi beberapa teman yang saling jatuh cinta. Perbedaan benua yang berjarak bukanlah halangan. Jika hati sudah bertaut tak ada lagi kata pantangan. Begitu agung 'cinta' hingga segala sesuatu menjadi seperti tak bermakna dibandingnya. Dan memang demikianlah hakikat cinta yang disemayamkan Allah di setiap benak dan lubuk hati. Bahkan si jenius Albert Enstein merumuskan, "The gravity doesn't responsible when somebody fall in love."

Luar biasa!
Saya setuju dengannya karena saya telah menjadi saksi atas tumbuhnya cinta seorang pria Yunani terhadap seorang gadis Brazilia keturunan Jepang. Mereka saling jatuh cinta melalui Myspace dan kini sudah menikah dan tinggal di Athena sana, ibukota Yunani. Dan acap kali saya melihat komentar-komentar yang mereka kirim ke halaman satu sama lain tetap penuh muatan cinta dan romantisme... ^=^

Juga, saya pun menjadi tempat curhat pria German yang 'in love' terhadap teman mutual kami, seorang gadis Amerika yang tinggal di Pensylvania. Lucunya, keduanya curhat pada saya tentang perasaan masing-masing sehingga saya tahu banyak perkembangannya... ^=^ Dan akhir musim panas ini Insya Allah mereka akan menikah. Dan lagi-lagi, si gadis akan pindah ke Nurmberg, German. Wow ! Maha Besar Allah... Begitu indah Dia menciptakan cinta.

Begitu pula di Facebook. Yang ini lebih real dan disaksikan dengan mata kepala sendiri. Karena yang kena panah cinta di dunia online kali ini justeru salah satu anggota keluarga saya. Mereka sudah hampir setahun ini menikah dan akan punya baby sebentar lagi. Subhanallah. Belum lagi teman lain yang menurut curhat-curhatnya di inboks saya, sedang mengalami 'heart attack' mendadak. Maksudnya, bahwa ia sering merasa ser-seran tiba-tiba saja setiap kali melintas wajah seseorang. O ow !

Sungguh...
Melihat fenomena ini membuat saya makin menyadari betapa Agung kekuatanNya. Ia menciptakan segala sarana sesuai jaman dan kesibukan demi menyatukan berbagai hati bertemu jodohnya. Karena dua hati yang berjodoh adalah ibarat gembok dan mata kuncinya. Gembok yang sedang terkunci tak bisa dilepaskan atau dibuka jika tak ditemukan kuncinya. Padahal, ketika kuncinya sudah ada, bukankah sangat mudah membukanya? Seperti itulah hati...

Kehidupan Cinta

Cinta Sejati dan Teman Sejati

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur, ketika kita menangis, ketika kita membayangkan, ketika kita berciuman?
Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT.

Kita semua agak aneh... dan hidup sendiri juga agak aneh...
Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita.
Kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA.

Ada hal - hal yang tidak ingin kita lepaskan...
Orang - orang yang tidak ingin kita tinggalkan...
Tapi ingatlah... melepaskan BUKAN akhir dari dunia, melainkan awal suatu kehidupan baru.
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari, dan mereka yang telah mencoba.
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

CINTA yang AGUNG adalah...
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia.
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sambil berkata 'Aku turut berbahagia untukmu'

Apabila cinta tidak berhasil... BEBASKAN dirimu...
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI...
Ingatlah...bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya...
Tapi, ketika cinta itu mati... kamu TIDAK perlu mati bersamanya...
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang, MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.
Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan, kamu belajar tentang dirimu sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada.
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan - pilihan kehidupan yang telah kau buat.

TEMAN SEJATI...
Mengerti ketika kamu berkata 'Aku lupa'
Menunggu selamanya ketika kamu berkata 'Tunggu sebentar'
Tetap tinggal ketika kamu berkata 'Tinggalkan aku sendiri'
Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata 'Bolehkah saya masuk?'

MENCINTAI...
BUKANlah bagaimana kamu melupakan, melainkan bagaimana kamu memaafkan.
MEMAAFKAN...
BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu mengerti.
MENGERTI...
BUKANlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasakan.

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati, dibandingkan menangis tersedu – sedu.
Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang.

Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang.
Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah, kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia dapat mencintai seseorang LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri.

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang. BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

Apabila kamu benar - benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia.
Jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar - benar mencintai MELAINKAN... BERJUANGLAH demi cintamu.
Itulah CINTA SEJATI

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA berjalan bersama orang 'yang tersedia'.
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai DARIPADA orang yang berada di sekelilingmu.
Lebih baik menunggu orang yang tepat kerena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang dengan hanya dengan 'seseorang'.

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu dan kadang kala, teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.
And now find U'r Love ... ... ...

Kehidupan Keluarga Rawan Konflik

Kehidupan yang dijalani Ryan dan Pradnya - tinggal serumah dengan orang tua dan anak-anak - disebut kehidupan generasi sandwich (Sandwich Generation, Raphael & Schlesinger, 1993). Menurut Gina Shaw, apapun alasannya, kehidupan pasangan yang "terhimpit" dalam generasi sandwich akan menjadi serba "terlalu" : terlalu lelah, terlalu stress, terlalu banyak pikiran, terlalu berat beban kerja, dan terlalu banyak waktu tersita. Bisa dipahami, karena mengurus diri sendiri saja sudah menguras segalanya, apalagi jika sekaligus mengurus diri sendiri, anak-anak, dan orang tua.

Karena serba terlalu itulah kehidupan generasi sandwich jadi rawan konflik. Menurut psikolog Prof. Dr. Jeanette Murad Lesmana, konflik seperti yang dialami Ryan dan Pradnya biasanya terjadi karena pasangan belum memiliki pemahaman atau kesepakatan tentang:
1. Kebiasaan. Setiap rumah memiliki kebiasaan masing-masing. Karena itu, menantu sebagai "pendatang" harus bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku di rumah mertua. Misalnya, jika mertua tipe rajin, maka menantu sebaiknya tidak bangun diatas jam 10 pagi, meskipun diakhir pekan atau hari libur.

2. Kontribusi. Bukan hanya uang, tapi juga kontribusi fisik, waktu, dan lain-lain. Anggota keluarga harus berdiskusi agar jelas task list atau kontribusi soal siapa memberi berapa, siapa mengerjakan apa, dan sebagainya. Tapi dalam hal ini, pasangan tidak perlu memaksakan diri jika belum mampu memberi konstribusi maksimal. Sesuaikan dengan kemampuan saja.

3. Pola asuh. Pola pengasuhan anak mengikuti aturan dari orang tua, bukan kakek nenek. Karena anak adalah produk dari orang tua bukan kakek nekek. Bila kakek nenek ingin melarang ini itu pada cucu (anak), maka harus sepengetahuan orang tuanya (anda dan pasangan), agar anak tahu, otoritas ada di tangan orang tua bukan kakek nenek.

4. Pembelaan. Teguran dari orang tua mungkin terdengar biasa saja di telinga anda, tapi tidak demikian bagi pasangan. Untuk itu, anda perlu membela pasangan agar ia tidak merasa terus disalahkan atau mengalah. Konflik kerap timbul, karena salah satu merasa tidak dibela atau diberi dukungan oleh pasangannya.

5. Privacy. Setiap anggota keluarga harus saling menjaga privacy, dengan memberikan waktu dan tempat bagi masing-masing anggota keluarga untuk melakukan kegiatan yang disukai, tanpa diketahui dan diinterupsi oleh anggota keluarga yang lain. Tapi yang lebih utama, privacy bagi anda dan pasangan.

"Modal wajib" bagi pasangan generasi sandwich. Agar konflik, seperti yang dialami Ryan dan Pradnya, tak berkepanjangan, menurut Prof. Dr. Jeannette, ada beberapa hal yang menjadi modal wajib bagi pasangan:
1. Komunikasi. Hidup bersama keluarga besar, maka komunikasi antara generasi harus sebaik mungkin. Segala sesuatu yang mengganjal perasaan, harus dibicarakan. Juga, sering-sering menjadi pendengar yang baik. Bila dalam kasus Pradnya-Ryan, maka Pradnya-lah yang harus mengajak suaminya untuk berdiskusi, dan menemukan solusi yang terbaik.

2. Penyesuaian. Pihak yang menumpang tinggal harus tahu diri dan menyesuaikan diri dengan penghuni dan sikon rumah. Misalnya, pasangan yang menumpang di rumah orang tua/mertua, maka pasangan harus menyesuaikan diri. Sebaliknya, bila orang tua yang menumpang di rumah anak, maka orang tua harus menyesuaikan diri.

3. Kesepakatan. Pasangan harus membentuk teamwork yang baik dan memiliki kesepakatan. Jika sejak awal menikah sudah sepakat tinggal bersama orang tua, maka segala risiko harus dijalani bersama. Pasangan harus sepakat dan saling mengetahui dan memahami setiap kebutuhan, tak terkecuali dalam urusan pembantu atau babysitter.

4. Kebesaran hati. Butuh kebesaran hati bagi ketiga generasi untuk bisa hidup berdampingan dengan mesra dalam satu atap. Bagi pihak yang menumpang, sebaiknya jangan berlaku seenaknya sendiri, karena posisinya hanya menumpang, bukan pemilik rumah. Bagi pihak yang ditumpangi sebaiknya tidak bersikap pamrih.

5. Perbedaan = Aset. Apa yang membuat sandwich istimewa? Tentu saja isi roti yang berbeda di setiap lapisannya. Sama halnya dengan keluarga besar, setiap individu memiliki karakter berbeda. Karena itu, perbedaan jangan dijadikan alasan saling bertentangan. Justru perbedaan itu merupakan aset yang memperkaya kehidupan.

6. Selesaikan segera. Minus dari tinggal bersama orang tua, giliran terjadi konflik dengan pasangan, orang tua akan mengetahuinya. Beda halnya bila Anda dan pasangan tinggal di rumah sendiri. Meski demikian, konflik harus diselesaikan sesegera mungkin. Bila keadaan sudah tak lagi memanas, bicarakan masalah dengan kepala dingin dan rasional sampai tuntas.

7. Beri perhatian. Meski banyak waktu dan energi yang tersita untuk orang tua dan anak-anak, bukan berarti anda dan pasangan lupa memperhatikan diri sendiri dan perkawinan. Sesekali nikmati waktu hanya berdua di luar rumah, entah makan di resto, nonton di bioskop, atau bertemu teman-teman. Intinya, give yourself a break!

Generasi sandwich tidak selalu negatif, kok!
Menurut Susan Ito, penulis kolom Life in the Sandwich di majalah online Literary Mama, hidup bersama orang tua memiliki banyak nilai plus. Salah satunya, soal pengaturan waktu. ?Dulu, keluarga kami sangat tidak disiplin. Waktu makan sesuka-sukanya. Tapi sejak ibu saya yang berusia 84 tahun tinggal bersama kami, waktu makan jadi lebih teratur karena mengikuti jadwal makan ibu. So we have nice family dinners,? kata Susan. Selain itu, menurut Prof. Dr. Jeanette, tinggal serumah dengan orang tua dan anak menjalin kemesraan, juga mengasah hubungan batin.

Yang harus didiskusikan dengan pasangan soal pengaturan rumah sandwich:
Segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan domestik, mulai dari soal rumah, uang, pekerjaan, seks, kesehatan dan nutrisi, keluarga, anak-anak, komunitas dan pertemanan, hingga kehidupan spiritual, harus dibicarakan dengan sebaik-baiknya dan sejelas-jelasnya dengan pasangan. Misalnya:
Ruangan. Siapa tinggal di ruang yang mana?
Waktu. Kapan untuk diri sendiri, berdua, dan keluarga?
Uang. Berapa biaya yang harus dikeluarkan/dialokasikan?
Aktivitas. Apa harus dilakukan untuk diri sendiri dan keluarga?
Kebutuhan. Bagaimana memenuhi kebutuhan anggota keluarga?
Kemesraan. Bagaimana menjaga kemesraan antara generasi?
Tugas domestik. Siapa mengerjakan apa? Cara bagaimana?

Memaknai Kehidupan

Memaknai Kehidupan

Awal musim dingin 1942. Para penguasa Austria di Vienna menangkap dan menahan ratusan orang Yahudi. Diantara mereka ada seorang psikiater muda bernama Viktor Frankl. Saat itu Frankl adalah seorang tokoh yang lagi naik daun karena mengembangkan sebuah teori baru tentang kesejahteraan psikologis.

Menghadapi penangkapan itu, ia dan istrinya, Tilly, telah mengantisipasi. Mereka berusaha keras menjaga apa yang menjadi miliknya yang paling penting. Sebelum polisi sampai di rumahnya, Tilly menjahit ke dalam lapisan jaket Viktor sebuah manuskrip buku yang ia tulis tentang teori-teorinya.

Viktor memakai jaket itu ketika pasangan tsb dikirim ke Auschwitz. Hari pertama lolos. Namun, hari kedua, penjaga SS melucutinya, melepas semua pakaiannya. Sejak itu ia tak tahu lagi dimana manuskripnya.

Tiga tahun kemudian, di Auschwitz dan kemudian di Dachau, ketika istri, saudara, ibu dan bapaknya tewas dalam tungku gas, Frankl berusaha untuk menciptakan kembali teksnya dengan menggoreskan catatan-catatan di atas potongan-potongan kertas yang dicurinya.

Dan tahun 1946, satu hari setelah tentara sekutu membebaskan kamp-kamp konsentrasi, lembaran-lembaran kertas yang kusut itu membentuk apa yang kemudian menjadi sebuah karya yang paling berpengaruh dan abadi pada abad yang lalu, bukunya, Man’s Searching for Meaning.

Dalam buku itu Frankl melukiskan bagaimana ia dengan gigih menghadapi kerja yang sangat berat, penjaga-penjaga yang sadis, dan makanan yang tidak cukup. Bahkan, buku tsb tidak hanya sekedar cerita perjuangan hidup. Buku itu sekaligus telah menjadi jendela untuk melihat jiwa manusia dan petunjuk pada kehidupan yang penuh makna.

Frankl berkesimpulan bahwa, “perhatian utama manusia bukanlah pada perolehan kesenangan atau menjauhi rasa sakit, namun lebih tepatnya, untuk melihat sebuah makna dalam kehidupannya.”

Dorongan kita yang paling mendasar, mesin motivasi yang memperkuat keberadaan manusia, adalah mencari makna. Frankl dan yang lainnya berupaya untuk menemukan makna dan tujuan bahkan dalam keadaan yang sangat menakutkan dari sebuah kamp konsentrasi!

***

Gerakan kehidupan kita yang begitu cepat dan serba tergesa-gesa dewasa ini, memang jadi sebuah tantangan tersendiri. Kita jadi sering lupa atau tidak punya waktu lagi “mencari makna hidup” kita di dunia ini. Lalu kita pun luput menanyakan apa “tujuan kehadiran” dan missi-hidup kita di alam fana ini.

Tentu kita tak perlu menghadapi peristiwa kejam, musibah yang tak tertahankan, atau mengalami berbagai penderitaan hidup, seperti halnya Frankl dulu, baru kita mulai mencari makna kehidupan. Kita bisa memulainya sejak sekarang. Mungkin memang perlu dengan “sedikit latihan”.

Maknai Dengan Menuliskannya

Menulis apa yang kita alami, bisa menjadi salah satu cara kita memaknai kehidupan. Syaratnya menulislah secara bebas. Tuliskan semuanya, ibarat “nge-print” semua yang terpikir dan terasa. Menulislah dengan asumsi tidak untuk dipublikasikan, tidak untuk dinilai, tidak untuk dikritisi. Biarkan ia tidak bagus, tidak enak. Menulislah hanya untuk diri Anda sendiri. Biarkan gerakan tangan berjalan tanpa bisa dihentikan. Biarkan perasaan yang menggerakkan. Biarkan kata demi kata akan meluncur tanpa jeda.

Ketika semua yang ingin disampaikan sudah habis, bacalah. Itulah ungkapan jujur yang keluar dari seluruh diri kita. Akan ditemukan banyak sekali makna-makna yang mungkin tak terpikir sebelumnya. Tak mustahil bahkan masalahnya jadi “selesai” begitu tulisan itu berakhir. Paling tidak, emosi yang begitu meluap bisa mereda. Amarah jadi senyap. Hati pun mulai tenang.

“Kita dilahirkan untuk mencari makna, bukan kesenangan, kecuali kesenangan yang terendam dalam makna,” ujar Jacob Needleman.

“Anda tidak akan menemukan makna kehidupan yang tersembunyi di bawah sebuah batu yang ditulis orang lain. Anda hanya akan menemukannya dengan memberikan makna kepada kehidupan dari dalam diri Anda sendiri,” kata psikoterapis Dr. Robert Firestone.